n
Tampilkan postingan dengan label Miliarder. Tampilkan semua postingan

Miliader mencari jodoh
Miliarder China, Habiskan uang 1 miliar untuk cari calon istri lugu dan tukus - Ketulusan memang masih ada di dunia ini, namun bisa dibilang sangat langka keberadaannya. Salah satu bentuk ketulusan yang dicari adalah ketulusan menjadi pasangan hidup.  Hal inilah yang menjadi motif seorang pria kaya raya atau miliarder China mengocek kantongnya dalam-dalam untuk menemukan 'ketulusan'itu.

Pria single bernama Rong ini adalah miliarder asal Wuhan. Ia memang bukan orang yang banyak berhubungan sosial kecuali dalam hal pekerjaannya. Diakui Rong, selama ini ia bertemu dengan wanita yang belum memenuhi kriteria idealnya sebagai seorang istri. Memangnya, seperti apa kriteria Rong?


Mencari Jodoh
Mencari calon istri yang tepat.
|Photo copyright Shanghaiist.com
Mr. Rong menginginkan seorang istri yang tulus dan lugu. Ia juga menginginkan seorang istri yang penampilannya alami. Untuk itu, ia bergabung dengan sebuah media pencarian jodoh dan menghabiskan uang sekitar 1 miliar bila dirupiahkan. Mengapa untuk pria seperti Rong begitu sulit menemukan kekasih dan malah mencarinya dalam media pencarian jodoh? 

Diakui Rong bahwa ia sangat ingin membahagiakan ibunya. karirnya saat ini juga sudah sangat stabil, sehingga sudah waktunya bagi Rong untuk membina rumah tangga dan menghabiskan waktu bersama keluarganya.

"Aku sering bertemu dengan wanita, namun belum menemukan yang cocok menjadi istriku. Malah sepertinya mereka akan capek sendiri menjadi pendampingku. Calon istriku sebaiknya tulus dan natural saja. Saya ingin membahagiakan dia. Saya akan mendukungnya baik ia mau menjadi ibu rumah tangga ataupun bekerja," kata Rong.

Fenomena mencari jodoh yang begitu bikin geger ini membuat orang berkomentar macam-macam tentang Rong. Untuk mendapatkan seorang istri dengan kriteria tersebut, menurut mereka terlalu berlebihan menghabiskan uang sebegitu banyak. Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa Rong sepertinya hanya sedang memamerkan kekayaannya saja.


Yah, namanya juga usaha. Ketulusan memang tidak bisa dicari dan dibeli dengan uang. Semoga Rong bisa menemukan calon istri yang diidamkannya. (Vemale)

Chamath Palihapitiya
Chamath Palihapitiya (Foto:marketwatch)
New York- Ungkapan uang tak menjamin kebahagiaan kini tampak dibenarkan banyak orang kaya. Salah satunya adalah pengusaha super kaya Chamath Palihapitiya yang merasa kekayaan tak membuatnya hidup bahagia.

Mengutip laman Business Insider, Senin (1/12/2014), dulunya, pendiri Social+Capital Partnership ini merupakan imigran asal Kanada ini hidup jauh dari kekayaan dan tinggal bersama ayahnya yang tidak memiliki pekerjaan. Merasa diabaikan oleh teman-temannya yang kaya, sejak kecil Palihapitiya hanya mengejar satu impian.

Mimpinya hanya satu, mencoba sebisa mungkin untuk tidak hidup miskin. Dia juga pernah terobsesi untuk menjadi salah satu miliarder ternama di dunia.

"Saya hidup sangat miskin. Saya pernah sangat-sangat ingin menjadi kaya. Tapi itu dulu, saat saya ingin dunia berkembang seperti yang saya inginkan," kisahnya.

Mungkin karena obsesinya, Palihapitiya dengan cepat menjadi salah satu pengusaha teknologi paling sukses dalam usia sangat muda. Saat baru menginjak 26 tahun, dia menjadi Vice President termuda sepanjang sejarah AOL.

Dia juga pernah bekerja di Facebook pada 2007 dan menjadi eksekutif senior terlama yang bekerja di perusahaan tersebut.

Selama menjalani karirnya, dia benar-benar menjauh dari kemiskinan dengan harta hampir bernilai US$ 1 miliar.

Tapi saat dia berhasil menjadi kaya raya Palihapitiya justru merasa seluruh hartanya tak membuat dia bahagia. Padahal dulu dia berpikir, kekayaan dapat membuatnya merasa sangat bahagia.

Dia menjelaskan, jika dengan hartanya dia tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih bermakna, maka dia tak akan pernah merasakan kebahagiaan sesungguhnya.

"Yang paling penting, saya sadar, bahwa saya perlu melakukan hal yang lebih berguna setelah menjadi kaya. Kaya hanyalah jembatan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dan dapat membantu orang lain," tandasnya.


Sumber | Liputan 6

Miliarder china
Miliarder asal China, Yu Pengnian
Beijing - Miliarder asal China, Yu Pengnian mengambil keputusan yang cukup mencengangkan dengan mendonasikan seluruh harta kekayaannya. Pria yang memiliki kekayaan sebesar 1,2 miliar pound sterling atau setara Rp 24,06 triliun ini, tidak meninggalkan harta sepeserpun untuk istri dan anak-anaknya.

Mengutip laman Mirror.co.uk, pengusaha properti ini tak pernah merasa rugi kehilangan hartanya karena dia memang berasal dari keluarga miskin. Dia memulai karirnya tanpa harta sedikitpun dan bekerja sebagai supir.

Kini di usianya yang ke-88, dia telah berubah menjadi salah satu orang terkaya di negaranya. Unik memang, pria yang membangun bisnisnya dari nol dan pernah hidup miskin ini tak mau meninggalkan harta untuk keluarganya.

Dia juga mengumumkan hal tersebut di muka publik. Yu menggelar konferensi pers untuk memastikan dirinya mendonasikan seluruh hartanya.

Dananya tersebut akan digunakan untuk membantu para siswa di perguruan tinggi, kontruksi bangunan di sejumlah daerah yang terkena gempa pada 2007 serta para pasien katarak.

Miliarder eksentrik yang tinggal di hotel bintang lima ini mengatakan, keluarganya mendukung keputusan tersebut. Meski dia mengaku, dengan atau tanpa dukungan dari keluarga, Yu tetap akan mendonasikan seluruh hartanya.

"Saya tak peduli apa kata orang. Ini membuat saya bahagia. Lagipula saya terbiasa hidup miskin," tandas dia.  (Liputan6)

CEO Amazon Jeff Bezos
CEO Amazon Jeff Bezos
New York - Situs jual beli online internasional Amazon.com harus menelan kenyataan pahit saat sahamnya merosot hingga lebih dari 9,5 persen di lantai bursa usai perusahaan tersebut gagal memenuhi target pertumbuhan pendapatannya. Tak ada yang menanggung kerugian lebih besar dari penurunan saham tersebut selain CEO Amazon Jeff Bezos.

Mengutip laman Forbes, Sabtu (26/7/2014), hanya dalam satu jam saja seiring dengan penurunan harga saham Amazon, Bezos harus kehilangan hartanya hingga US$ 3 miliar atau Rp 34,8 triliun (kurs: Rp 11.600/US$) saat pasar ditutup.

Harga saham yang telah merosot tujuh persen dalam enam bulan terakhir membuat para investor kian tak tertarik membenamkan modalnya.

Berdasarkan jumlah harta yang telah disesuaikan dengan kepemilikan sahamnya, Forbes memprediksi total kekayaan Bezos kini hanya berjumlah sekitar US$ 29,8 miliar. Meski begitu, dia tetap berada di jajaran 25 miliarder terkaya dunia.

Bezos merupakan seorang pimpinan yang memegang tegus tradisi bisnis lama di mana dia tidak menempatkan pendapatan perusahaan sebagai prioritas utama.

Hingga laporan kuartal II dirilis, Amazon tidak menunjukkan terobosan baru yang dapat mendongkrak harga sahamnya termasuk Amazon Web Services.

Meski demikian CFO Amazon Tom Szkutak melaporkan AWS terus mengalami laju pertumbuhan yang sangat kuat. Penggunaannya di kuartal II tumbuh hingga hampir 90 persen dalam jangka waktu setahun.
Amazon berharap dapat terus meningkatkan pertumbuhan penjualan produk pada kuartal depan. Pasalnya, sejumlah prediksi menunjukkan kemungkinan penurunan penjualan dari antara US$ 19,7 miliar hingga US$ 21,5 miliar.

Ironisnya, Amazon juga melihat adanya kemungkinan kerugian yang lebih besar hingga akhir tahun. Penurunan pendapatan diprediksi merosot sekitar US$ 410 juta hingga US$ 810 juta. (Liputan6)

Lim Kang Hoo, Seorang Miliarder Malaysia, Yang Pernah diejek Gila
Kuala Lumpur - Malaysia kembali menetaskan seorang miliarder baru di dunia, Lim Kang Hoo. Pengusaha properti dan investasi ini ternyata pernah diejek sebagai orang gila karena gagasan-gagasan bisnisnya yang luar biasa tapi nyaris tidak masuk akal.

Mengutip laman Forbes, Selasa (24/6/2012), pria tersebut memimpin sebuah perusahaan konstruksi, Ekovest. Berkat perusahaan tersebut, Lim sukses menembus jajaran miliarder terkaya di dunia.

"15 tahun yang lalu, tak ada seorangpun yang mau meminjamkan uangnya pada saya. Orang-orang bahkan menertawakan saat saya menawarkan konsep mengubah Johor Bahru (JB) menjadi seperti Shenzen-Hong Kong. Mereka pikir saya gila," kisahnya.

Hebatnya, tahun lalu Lim membuktikan gagasannya tersebut bukan ide gila yang tak bisa terwujud. Tahun lalu, bersama Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dan Perdana Menteri Malaysia Nazib Razak, dia meluncurkan komplek perkotaan baru, Iskandar City.

Dia hanya bisa tersenyum membayangkan wajah-wajah yang beberapa tahun lalu menertawakannya. Lim kini memiliki 4.000 hektare dari kawasan Iskandar, salah satu tujuan investasi properti terpanas di Asia.

Sejumlah miliarder membenamkan modalnya di sana termasuk Robert Quok, Peter Lim dan  Jeffery Cheah. Dibandingkan harga belinya, nilai jual properti Lim tersebut telah meningkat hingga lebih dari 300 kali lipat.

Pada Februari, Lim menempati posisi ke-18 sebagai orang terkaya di Negeri Jiran tersebut. Kekayaannya kala itu baru mencapai US$ 975 juta. Sejak saat itu, kenaikan harga saham Ekovest Berhard di mana dia memiliki saham 33 persen, menambah total kekayaannya hingga lebih dari US$ 1 miliar.

Bagi sebagian orang, rencana-rencana bisnisnya terlalu ambisius. Tapi bagi dirinya hingga saat ini, tak ada yang tak mungkin dalam berbisnis.


Sumber

MEXICO CITY - Anggapan bahwa Amerika Latin miskin dan terbelakang dibantah orang terkaya di dunia, Carlos Slim Helu.

Carlos berhasil menggeser Bill Gates sebagai orang paling tajir di dunia. Majalah Forbes mencatat, kekayaan Carlos sebesar 69 miliar dolar AS bersumber dari tiga perusahaan besar miliknya, yakni Telefonos de Mexico (Telmex), Telcel, dan Amrica Movil.

Carlos juga memecahkan rekor sebagai orang terkaya di dunia tiga kali berturut-turut sejak 2010. Carlos pertama kali muncul di daftar orang terkaya versi Forbes pada 1991.

Saat ditanya bagaimana rasanya jadi miliarder, dengan rendah hati ia menjawab, "Ini bukan uangku. Ini hanya titipan Tuhan."

Diwartakan Fox News, kunci utama yang membuat ia makmur adalah banyak relasi dan keberanian. Pria kelahiran Mexico City, 28 Januari 1940 pandai bergaul. Sehingga, bisnisnya terus menanjak.

Ketangguhan Carlos dalam berbisnis banyak dipengaruhi oleh ayahnya, Yusef Salim Haddad, warga asli Lebanon yang melarikan diri ke Meksiko pada 1902.

Di Meksiko, ayah Carlos membangun toko barang kelontong bernama La Estrella del Oriente (Bintang Timur). Suatu hari, Yusef bermimpi membeli beberapa perumahan mewah di pusat kota. Mimpi itulah yang menjadi motivasi besarnya untuk sukses dan mengubah kehidupan ekonomi keluarganya.

Sejak kecil, Carlos sudah diajarkan ayahnya berbisnis. Ia memulai karier bisnisnya pada usia 10 tahun, dengan menjual permen dan minuman kepada keluarganya.

Pada usia 12 tahun, ia sudah punya saham di sebuah bank di Meksiko. Di usia 17 tahun, Carlos bekerja di perusahaan ayahnya, dan digaji Rp 142 ribu per bulan. Pada 1952, Yusef meninggal.

Menyandang gelar insinyur teknik sipil dari National Autonomous University of Mexico pada 1961, Carlos sempat mengajar Aljabar dan Linear Programming. Ia juga pernah mengajar di lembaga internasional, Economic Commission for Latin America and the Caribbean (ECLAC).

"Ia mengajarkanku keberanian, dan memotivasiku untuk tetap maju meski Meksiko dilanda krisis," tutur Carlos memuji sang ayah.

Menginjak usia 30tahun, Carlos memulai bisnis besarnya di bidang konstruksi, real estate, dan pertambangan. Pada 1990, dengan menggandeng Southwestern Bell Corp dan France Telecom, ia membeli Telmex dari pemerintah.

Padahal, saat itu kondisi Telmex sangat morat-marit. Tanpa gentar, Carlos mengubah perusahaan yang merugi menjadi pencetak uang.

Meski sempat dikritik karena menaikkan tarif telepon di negaranya, Carlos tetap bertekad memperbaiki pelayanan telepon di Meksiko, berupa tawaran sambungan lokal, interlokal, selular, internet, dan direktori telepon.

Kerja kerasnya berbuah manis. Perusahaan telekomunikasinya meraih penjualan tahunan hingga 16 miliar dolar AS. Kini, Telmex adalah perusahaan telekomunikasi terbesar di Meksiko.

Baru-baru ini, Telmex American tercatat sebagai salah satu perusahaan yang disegani di New York Stock Exchange.

Carlos kemudian mengembangkan perusahaan jasa internet, Prodigy Inc, yang sukses menjadi perusahaan jasa internet terbesar ketiga di Amerika Serikat.

Carlos juga membangun perusahaan keuangan Grupo Financiero Inbursa, dan industri retail, Grupo Carso. Lagi-lagi, perusahaan yang ia kendalikan itu sukses.

Pada Februari 2006, Carlos melirik perusahaan CompUSA. Lewat perusahaannya, Grupo Sanborns, Carlos menawar CompUSA 800 juta dolar AS.

Ia juga tercatat sebagai anggota komisaris Philip Morris dan SBC. Jabatan Presiden New York Stock Exchange juga pernah diembannya. Pria 72 tahun pun memiliki saham di Saks Department Store, dan The New York Times Co.

Berkat kesuksesannya, kini citra Meksiko yang merupakan salah satu negara miskin di Amerika Selatan menjadi terpandang. (*)



Sumber

Diberdayakan oleh Blogger.